Motivation: Kehilangan

Agustus 6, 2007 at 5:05 pm Tinggalkan komentar


By: Eloy Zalukhu
Motivator & Business Trainer

eloy-zalukhu-picture.jpgKehilangan adalah sebuah pengalaman yang dapat dialami oleh setiap orang. Tidak peduli apakah Anda pria atau wanita, tinggal di kota atau di desa, miskin atau kaya raya, penguasa atau rakyat jelata, orang muda atau lanjut usia. Pengalaman kehilangan tidak mengenal agama ataupun suku bangsa. Ia bersifat universal
sehingga tidak seorang pun yang dapat luput dari padanya.

Pengalaman kehilangan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Ada orang yang kehilangan harta, ada pula yang kehilangan orang yang dicintainya. Ada orang yang kehilangan pekerjaan ada pula yang kehilangan tempat tinggalnya. Ada orang yang
kehilangan jabatan dan ada pula yang kehilangan kesehatannya. Bahkan pada akhirnya, setiap orang akan kehilangan nyawanya!

Maka ketika saya berpikir lebih dalam, saya sampai
pada satu kesimpulan, bahwa: “Hidup adalah rangkaian
pengalaman tentang kehilangan.” Kesimpulan ini bisa
jadi merupakan sesuatu yang “menakutkan” bagi banyak
orang, sehingga tidak heran bila sangat sedikit yang
berani membicarakannya secara terbuka.

Tetapi karena “pengalaman kehilangan” adalah sebuah
realita hidup manusia, maka yang terbaik dan paling
bijaksana adalah supaya kita belajar mengenali dan
menang atas “kehilangan” itu sendiri. Bila tidak, kita
akan menjadi orang-orang yang hidup dalam kesedihan
dan kekecewaan tak berujung.

Sebagai seorang Motivator, sudah menjadi pekerjaan
saya untuk membuat seseorang bergerak maju, bekerja
dengan antusias dan penuh semangat, guna mendapatkan
suatu hasil yang lebih baik dan semakin baik. Namun
semakin banyak orang yang saya temui, saya semakin
menyadari bahwa ternyata menolong orang untuk
mendapatkan sesuatu barulah setengah perjalanan karir
seorang Motivator sejati.

Sesungguhnya, perjalanan hidup untuk mendapatkan dan
mempertahankan sesuatu, hanyalah satu sisi mata uang.
Sisi yang lain daripada kehidupan manusia berbicara
mengenai kehilangan apa yang pernah didapat. Pada saat
“pengalaman kehilangan” itulah pencerahan yang sejati
dibutuhkan. Dan pencerahan ini tidak dapat diberikan
oleh Kecerdasan Emotional (SQ). Seseorang yang sedang
mengalami kehilangan hanya dapat dicerahkan secara
tuntas oleh Kecerdasan Spiritual (SQ), seperti yang
akan kita bahas kali ini. Renungkan kisah berikut…

Kisah Seorang Pemburu

Diceritakan tentang dua orang sahabat yang tinggal di
suatu desa. Mereka memiliki kesenangan yang sama,
yakni: berburu. Pada suatu hari, ketika mereka sedang
berada di tengah hutan tiba-tiba seekor harimau muncul
siap menerkam mereka berdua. Dengan sekuat tenaga
kedua sahabat bergelut dengan harimau yang sangat kuat
itu, dan harimau itupun berhasil dikalahkan.

Namun akibat dari pertempuran sengit itu, salah satu
dari mereka kehilangan tiga jari tangan kanannya.
Sementara sahabat yang satu lagi kehilangan seluruh
jari tangan kanan dan kirinya. Dengan bantuan
seseorang yang tengah lewat, kedua sahabat berhasil
kembali ke rumah dengan selamat. Setelah perawatan
selama tiga bulan, luka-luka mulai sembuh dan mereka
siap memulai hidup baru.

Tetapi dengan berjalannya waktu, sahabat yang
kehilangan tiga jari sering murung dan kehilangan
gairah hidup. Ia sering marah dan mengurung diri di
dalam rumah. Ia sering bercerita betapa kecewanya dia
dengan ketiga jarinya yang telah hilang.

Bagaimana dengan sahabat yang kehilangan sepuluh jari?
Apakah ia murung dan tersiksa oleh rasa kecewa yang
lebih besar? Ternyata tidak, ia masih bisa tersenyum
dan mampu menatap masa depan dengan penuh gairah.

Pertanyaanya adalah: mengapa mereka sangat berbeda
dalam hal meresponi kehilangan yang mereka alami?
Ketiga poin di bawah ini merupakan jawabannya.

1. Tak ada yang kebetulan

Ketika Anda kehilangan sesuatu yang berharga atau
ditinggal oleh orang yang Anda cintai, hal yang normal
bila Anda menangis dan bersedih hati. Namun jangan
biarkan “kehilangan” itu menguasai dan meruntuhkan
hidup Anda selamanya. Bangkit dan sadarkan diri Anda
bahwa tidak ada satupun yang terjadi karena kebetulan,
termasuk juga di dalam kehilangan yang tengah Anda
alami.

Di balik semua kejadian selalu, sekali lagi saya
katakan, selalu ada maksud dan tujuan yang baik.
Memang, pada waktu kita sedang berada di tengah titik
kehilangan itu, tidak selalu mudah untuk mengenali
maksud dan tujuan baik yang dikandungnya. Tetapi bila
saja, melalui kehilangan itu, kita dapat belajar untuk
lebih kuat menghadapi kehilangan berikutnya, bukankah
hal tersebut telah menjadi sesuatu yang baik dan
berharga?

Jadi, sekali lagi mari kita belajar untuk percaya
bahwa tidak ada kejadian, bahkan yang paling buruk
sekalipun, yang terjadi secara kebetulan atau diluar
ijin Sang Penguasa dunia ini. Di tengah kehilangan,
yakinkan diri Anda bahwa Tuhan masih mengontrol dunia
ini, termasuk hidup Anda. Karena itu, jangan putus
asa, dan jangan pernah menyerah!

2. Menghitung yang Tersisa

Pemburu yang kehilangan tiga jari menjadi kecewa dan
tidak mampu bersyukur karena ia terlalu sibuk
menghitung apa yang telah hilang darinya. Memang,
ketika pikiran kita difokuskan pada apa yang telah
hilang maka kehilangan tiga jari bisa terasa sangat
menjengkelkan.

Hidup pastilah tidak senyaman seperti waktu memiliki
jari yang lengkap. Belum lagi perasaan tertekan di
tengah pergaulan. Lalu bagaimana ketika berjabat
tangan dengan seorang wanita cantik? Wah betapa
sedihnya, betapa repotnya, dan betapa malunya
kehilangan tiga jari.

Tetapi pemburu yang satu lagi tidak mengfokuskan
pikirannya untuk menghitung sepuluh jari yang telah
hilang, karena ia sadar jari itu tidak mungkin lagi
dapat kembali. Ia menolak untuk menjadi korban
kejadian masa lalu.

Karena itu, ia memilih untuk menghitung apa yang
tersisa dalam hidupnya. Maka kemudian setiap pagi, ia
bersyukur bahwa ia masih diberikan kesempatan untuk
hidup. Dia sadar, di hutan itu sesuatu yang jauh lebih
buruk bisa saja terjadi kepadanya. Ia bisa saja
kehilangan nyawa!
Maka kemampuan kita bersyukur sangat tergantung cara
kita menghitung. Bila kita menghitung dari apa yang
hilang, maka pastilah kita akan sulit bersyukur.
Sebaliknya, bila rasa syukur berangkat dari apa yang
tersisa, mungkinkah rasa syukur itu akan pernah
berakhir?

3. Mendapat Sang Pemberi

Poin yang ketiga ini jauh lebih penting dibandingkan
poin yang pertama dan kedua diatas. Untuk dapat
menghadapi kehilangan maka seseorang harus naik kelas
dari pemahaman spiritual: “Aku ingin mendapat ini-itu
dari Tuhan” menjadi “Aku ingin mendapatkan Tuhan itu
sendiri (Sang Pemberi ini-itu).”

Maksudnya begini: Banyak orang yang beragama, kemudian
berbuat baik atau hidup saleh karena mereka berharap,
melalui semua perbuatan baik mereka, hidup mereka
diperlancar, keluarga mereka dijagai, usaha mereka
dibuat berhasil, tubuh mereka disehatkan…oleh yang
namanya Tuhan.

Silahkan baca lagi kalimat di atas, dan renungkan
sebentar. Kalau Anda dapat memahami konsep penting ini
maka Anda akan meresponi kehilangan, bahkan hidup
secara keseluruhan secara berbeda. Perhatikan, pada
kalimat di atas, yang menjadi tujuan akhir adalah
“mendapatkan ini-itu”, dan Tuhan berperan sebagai
“alat”. Sekali lagi, Tuhan ditempatkan hanya sebagai
alat, bukan sebagai Tuhan.

Risiko bagi orang yang memiliki pemahaman seperti di
atas adalah, ketika suatu hari ia ditimpa kemalangan
dan mengalami kehilangan, ia akan merasa sangat
kecewa, frustasi, putus asa, berhenti berbuat baik dan
kemudian mulai mengutuki serta meninggalkan Tuhan.

Mengapa ia mengutuki dan meninggalkan Tuhan? Alasannya
sangat sederhana: Karena Tuhan tidak bekerja sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh orang tersebut.

Maka, ketika saya pikirkan lebih dalam lagi tentang
konsep ini, maka yang paling menarik adalah: Dari
pemahaman seperti di atas, ternyata, sebetulnya yang
tengah berperan sebagai Tuhan, bukanlah Tuhan
melainkan manusia yang tengah berharap “ini-itu”
tersebut. Sekali lagi, yang terjadi adalah: Tuhan
tidak lebih dari sekedar alat untuk mendapatkan apa
yang diinginkan oleh manusia. Jelas, ini adalah
pemahaman yang keliru.

Itulah sebab, saya menawarkan pemahaman lain dalam
meresponi kehilangan. Mari kita naik kelas dari
mengharapkan ini-itu dari Tuhan, menjadi mendapatkan
Tuhan itu sendiri. Hanya dengan pemahaman yang baru
inilah, maka hubungan kita dengan Sang Pencipta, tulus
didasarkan pada cinta kita kepadaNya, dan bukan cinta
kita kepada pemberianNya.

Maka di level pemahaman yang baru inilah manusia dapat
berkata: “Di tengah dunia yang fana ini, aku dapat
kehilangan segala-galanya. Namun, kendati aku
kehilangan segala-galanya, aku ingin pastikan bahwa
aku mendapatkan Sumber segala-galanya, Sang Pemberi.
Dan bagiku itulah yang paling berarti!”

KESIMPULAN

Sekali lagi, “kehilangan” adalah realita hidup
manusia. Ketika ia datang menghampiri, dengan tegar
mari menghadapinya tiga tips di atas, sampai kita
menjadi pemenang.

Sukses untuk Anda!
www.eloy-zalukhu.com

[Forwarded from Nias Community Forum Mailing List]

Please leave your comment🙂


Technorati TAGS: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Entry filed under: Personal. Tags: .

Mengedit Warna Objek Mata Dengan Photoshop Journey Around Half of The Nias Island

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Monthly Calendar

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

People Lost in My Room

  • 646,151 friends

Member Of

Digitalized Images Creation

Ordinary Beauty

Young Couple

Unbelieveble

I feel shame

Unrevealed Sadness

Lebih Banyak Foto

Community

Forum Bloggerian Indonesia
Indiwiki Bloggerian
dd-wrt
hacker.org
hot script


%d blogger menyukai ini: